Wednesday, July 1, 2009

Bandwagon Effect dan Underdog Effect

Pemilihan Presiden tinggal sebentar lagi. Tanggal 08 Juli nanti rakyat Indonesia akan memberikan pilihannya. Pilihan tersebut akan menentukan perjalanan bangsa ini lima tahun ke depan. Bahkan mungkin menentukan puluhan, bahkan ratusan tahun ke depan. Ini Pemilihan Presiden secara langsung yang dilaksanakan untuk kedua kalinya di negeri yang sejak kemerdekaannya, pada tahun 1945, sudah memilih sistem demokrasi. Pilpres secara langsung pertama kali dilakukan pada tahun 2004 lalu dengan pasangan SBY-JK sebagai pemenangnya. Pilpres kala itu harus berlangsung selama dua putaran.

Walaupun pemilihan, atau sekarang lebih populer dengan "pencontrengan," belum dilaksanakan, tapi beberapa lembaga survei telah merilis hasil survei yang menunjukkan salah satu kandidat akan memenangkan pilpres kali ini, bahkan cukup dengan satu putaran saja. Padahal untuk mengakhiri pilpres satu putaran dibutuhkan syarat yang tidak mudah, yaitu harus memperoleh dukungan lebih dari 50%, yang mana di lebih dari separuh jumlah propinsi yang ada harus mendapatkan minimal 205 suara.


Publikasi hasil surei tersebut ditakutkan akan mempengaruhi pilihan masyarakat. Pengaruh tersebut lazim disebut dengan Bandwagon Effect.

Untuk mengetahui bagaimana pengaruh survei dan perilaku pemilih akan saya sajikan di sini tulisan yang disampaikan oleh Saiful Mujani yang berjudul Survei dan Perilaku Pemilih. Tulisan tersebut pernah dipublikasikan oleh Kompas, Senin, 14-06-2004, Halaman 4, Tanggal dimuat: 14 Juni 2004.

Dua kali pemilihan umum legislatif terakhir di Tanah Air, 1999 dan 2004, ditandai dengan bermunculannya survei opini publik tentang perilaku pemilih. Yang banyak mendapatkan perhatian media massa dari survei tersebut adalah peluang terpilihnya partai politik.

Berbagai jenis jajak pendapat melaporkan hasil yang berbeda-beda tentang perolehan suara parpol. Sebelum pemilihan umum, Lembaga Survei Indonesia (LSI), misalnya, memprediksi bahwa Golkar mendapatkan suara paling banyak, diikuti Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), dan kemudian PKB. Prediksi ini rata-rata cukup akurat daripada hasil pemilu sebenarnya yang diumumkan sekitar satu bulan kemudian. Tahun 2003, LSI dan sejumlah lembaga survei sejenis, seperti International Foundation of Electoral Sustems (IFES) dan International Republican Institute, sudah memperkirakan bahwa Golkar berpeluang besar mendapatkan suara paling banyak dalam pemilu legislatif 2004.

Muncul berbagai reaksi terhadap prediksi hasil survei tersebut. Salah satunya adalah reaksi negatif. Dikatakan, misalnya, bahwa prediksi hasil pemilu dari hasil survei tersebut memengaruhi pilihan masyarakat terhadap partai politik dalam pemilu aktual. Karena Golkar diprediksi akan menang dalam pemilu oleh lembaga-lembaga jajak pendapat tersebut, pemilih kemudian memilih Golkar pada hari pemilu, dan karena itu Golkar kemudian keluar sebagai partai yang mendapatkan suara paling banyak.

Kalau Golkar akan menang dalam pemilu, kenapa memilih partai lain yang diperkirakan pasti kalah. Demikianlah kira-kira argumen orang yang keberatan dengan prediksi jajak pendapat tentang hasil pemilu. Argumen ini biasa disebut sebagai argumen bandwagon effect. Inti argumen ini adalah bahwa seorang pemilih akan memilih sebuah partai politik karena partai tersebut diopinikan akan memenangkan pemilu. Pemilih hanya ikut saja pada pilihan yang diopinikan akan menang sebab buat apa memilih partai yang diopinikan kemungkinan besar akan kalah. Benarkah demikian? ***
DALAM studi sistematis tentang perilaku pemilih, termasuk yang menggunakan metode eksperimental, tidak ada hasil konklusif sejauh mana bandwagon effect itu betul-betul bekerja (Asher 1995). Kalaupun ada pengaruh, menurut temuan sebuah eksperimen, bandwagon effect itu bekerja bukan dengan membuat pendukung sebuah partai atau calon memindahkan dukungannya pada partai atau calon yang diopinikan akan menang dalam pemilu, melainkan berubah menjadi absen dalam pemilu. Hasil survei mendorong pemilih menjadi pesimis ketika partai atau calonnya diopinikan akan kalah sehingga ia merasa tidak ada gunanya ikut serta dalam pemilu (Bock 1976).

Kendati demikian, kesimpulan ini belum cukup solid secara empiris karena ada tanda-tanda bahwa absen dari pemilu, terutama bukan ditentukan oleh opini publik dari survei yang menunjukkan partai yang didukung seorang pemilih akan kalah dalam pemilu. Absen dari pemilu dalam banyak kasus negara-negara demokrasi terutama karena perilaku rasional para pemilih, bukan karena yakin bahwa partainya akan kalah sebagaimana diungkapkan hasil survei perilaku pemilih.

Seorang pemilih rasional adalah pemilih yang menghitung untung- rugi dari tindakannya (memilih partai atau calon). Sebuah tindakan dikatakan “menguntungkan” bila ongkos yang dikeluarkan untuk mendapatkan hasil dari tindakan tersebut lebih rendah dari hasil tindakan itu sendiri. Sebaliknya, sebuah tindakan disebut “rugi” bila ongkos untuk mendapatkan hasil itu lebih tinggi nilainya ketimbang hasil yang diperoleh. Dalam pemilu, hasil yang didapat merupakan barang publik, bukan pribadi. Ia dimiliki dan digunakan secara kolektif dalam masyarakat, bukan secara pribadi.

Karena sifat pemilu seperti ini, tidak ada insentif pribadi bagi seseorang untuk ikut serta dalam pemilu. Hasil pemilu bagi yang ikut pemilu ataupun tidak akan sama karena hasil pemilu bersifat publik, bukan privat (Kanazawa, 1998). Kalau yang ikut memilih dan tidak ikut memilih akan mendapatkan hasil yang sama, kenapa harus mengeluarkan ongkos, sekecil apa pun, untuk ikut pemilu: menyisihkan waktu, meninggalkan pekerjaan, harus libur nasional sehingga perusahaan swasta juga harus libur, dan lain-lain.

Perilaku rasional pemilih semacam ini yang dipercaya bertanggung jawab terhadap absennya warga negara dalam pemilu, bukan karena opini dari survei bahwa partai atau calon yang didukungnya akan kalah dalam pemilu. ***
DI samping argumen bandwagon effect, ada studi sistematik dan eksperimental yang menunjukkan dampak sebaliknya, yakni underdog effect (Marsh, 1984). Informasi hasil survei tentang pemilih sebelum pemilu mendorong pemilih untuk bersimpati pada yang diopinikan akan kalah sehingga partai atau calon tersebut kemudian mendapatkan dukungan dan akhirnya partai atau calon tersebut menang dalam pemilu.

Argumen bandwagon effect dan underdog effect ini jelas saling bertentangan dan membutuhkan studi empiris lebih lanjut untuk menunjukkan argumen mana yang lebih meyakinkan. Namun demikian, kedua effect tersebut mungkin terjadi pada pemilih kita sehingga hasil akhirnya kemudian saling meniadakan, dan dampak publikasi hasil survei pemilih sebelum pemilu terhadap pilihan politik pada hari pemilu kemudian menjadi tidak signifikan. Kemungkinan ini setidaknya terlihat dari data empiris empat kali survei nasional yang dilakukan LSI.

Dalam survei pertama LSI Agustus 2003, partai yang cenderung dipilih pemilih Indonesia adalah Partai Golkar dengan perolehan suara sebanyak 24 persen; pada November 2003 dan pada survei Maret 2004 sebelum pemilu, Golkar diperkirakan akan mendapatkan suara 23 persen. Perkiraan ini dekat dengan hasil pemilu aktual Partai Golkar (KPU), yakni sekitar 22 persen. Jadi, tidak ada perubahan bermakna pada proporsi perolehan suara Golkar dari satu survei ke survei berikutnya. Posisi unggul Golkar atas PDI-P yang lebih kurang stabil seperti ini juga ditemukan pada survei-survei nasional lain seperti yang dilakukan IFES. Kalau bandwagon effect bekerja, mestinya ada kenaikan dukungan secara signifikan terhadap Partai Golkar dalam survei kedua, ketiga, dan hasil pemilu aktual sebab opini bahwa Golkar akan menang pemilu akan menarik pemilih yang tadinya tidak mendukung Golkar untuk memilihnya. Tetapi, kenyataannya tidak demikian.

Demikian juga underdog effect. Bila ia betul-betul bekerja secara signifikan, seharusnya partai-partai baru pada umumnya mendapatkan suara signifikan dalam Pemilu 2004. Dua minggu sebelum pemilu, LSI mengumumkan prediksi hasil pemilu di mana partai-partai baru pada umumnya tidak akan mendapatkan suara signifikan keculai Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Demokrat. Hasil prediktif ini rata-rata tidak berbeda secara signifikan dari hasil pemilu aktual. Ini menunjukkan bahwa underdog effect dari hasil survei pemilih tidak terlihat.

Di samping itu, partai yang terlihat sejak tahun lalu merosot secara tajam perolehan suaranya adalah PDI-P, di mana dalam Pemilu 1999 memperoleh suara sekitar 34 persen dan dalam survei LSI sebelum Pemilu 2004 sekitar 17 persen. Survei LSI Agustus 2003 menunjukkan perolehan suara PDI-P sebanyak 17 persen, pada November 2003 15 persen, pada Maret 2004 sebanyak 17,5 persen, dan hasil akhir KPU sebanyak 18,5 persen. Kalau ada underdog effect, PDI-P yang diopinikan akan kalah oleh Golkar mestinya menumbuhkan simpati pada PDI-P sehingga mendorong semakin banyak pemilih mendukungnya secara signifikan sehingga bisa mengalahkan, atau setidaknya menyamai perolehan suara Golkar. Kenyataannya tidak demikian. ***
BEBERAPA hari setelah pemilu legislatif 5 April 2004, LSI melakukan evaluasi publik secara lebih spesifik mengenai dampak survei pemilih terhadap perilaku pemilih kita. Ditanyakan, “Apakah ibu/bapak pernah mengikuti hasil jajak pendapat yang disiarkan media massa, seperti TV, surat kabar, dan lain-lain, tentang partai politik yang dipilih masyarakat?” Yang menjawab “pernah” sebesar 40 persen, yang sebaliknya 60 persen. Dalam survei ini tidak dikejar lebih jauh, jenis jajak pendapat yang dilakukan, apakah jajak pendapat dengan SMS, telepon, atau wawancara tatap muka langsung. Juga tak ditanyakan sejauh mana masyarakat tahu metode jajak pendapat tentang pemilih yang benar.

Dari 40 persen yang menyatakan pernah ikut mengikuti hasil jajak pendapat dari media massa tersebut, kemudian disilang dengan pilihan terhadap partai politik dalam pemilu legislatif 5 April 2004. Hasilnya menunjukkan bahwa distribusi yang mengikuti jajak pendapat tentang pilihan partai politik tidak terpusat pada Golkar, dan yang tak mengikuti pada PDI-P. Ini juga menunjukkan bahwa bandwagon effect tidak bekerja di dalam pemilih kita. Namun, ada kesan bahwa underdog effect bekerja pada pemilih Partai Demokrat dan PKS, di mana pemilih yang mengikuti jajak pendapat cukup terkonsentrasi pada pemilih PKS dan Partai Demokrat.

Namun demikian, dampak dari mengikuti jajak pendapat ini menjadi tidak signifikan ketika dikontrol dengan faktor pendidikan. Artinya, bukan mengikuti jajak pendapat yang memengaruhi pilihan terhadap Partai Demokrat dan PKS, melainkan tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan berhubungan dengan intensitas mengikuti jajak pendapat dan dengan pilihan terhadap dua partai itu. Jadi, underdog effect tidak terjadi di dalam pemilih kita. ***
MEMONITOR dukungan pemilih kita secara teratur dan menginformasikannya kepada publik tidak memengaruhi pilihan partai politik atau calon pejabat publik. Sebaliknya, informasi itu diperlukan oleh publik karena pilihan-pilihan mereka akan menjadi keputusan publik dan berpengaruh pada kepentingan publik.
Karena itu, publik berhak tahu sejak dini keputusan publik apa yang akan terjadi dan kemudian kebijakan publik apa yang akan dibuat kemudian. Survei perilaku pemilih adalah salah satu cara sistematis untuk memenuhi hak-hak publik itu, termasuk hak untuk mengetahui sejak dini pasangan mana yang akan menjadi presiden dan wakil presiden nanti.

Saiful Mujani
Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan Peneliti Utama Freedom Institute

Artikel Terkait:

Masukkan Email Untuk Berlangganan

1 komentar:

brovanz said...

siapapun nanti pemenang pemilu PILEG maupun CAPRES yang telah kita pilih secara demokratis,harus kita dukung sepenuh hati untuk merealisasikan janji2nya agar bisa menjadi bukti nyata bagi bangsa Indonesia...

Post a Comment

Berikan Komentar Anda! Saya Akan Sangat Senang Bila Anda Melakukannya. Tapi Ingat!!! Komentar Yang Membangun ya?. Trims.