Sunday, April 18, 2010

TEH ES ATAU ES TEH?

Beberapa saat yang lalu saya berkunjung ke Kalimantan Selatan (Kalsel), tepatnya ke Kota Banjarmasin, Banjar Baru, Maratapura (ibu kota Kabupaten Banjar), dan ke Batulicin (ibu kota Kabupaten Tanah Bumbu). Saya berada di “Bumi Lambung Mangkurat”, sebutan untuk Kalsel, kurang lebih selama satu bulan. Saya pertama kali menginjakkan kaki di bandara Syamsuddin Noor Banjar Baru pada tanggal 09 Maret 2010, dan menginjakkan kaki kembali di bandara Juanda Sidoarjo pada tanggal 15 April 2010.

Saya tidak sendirian dalam kunjungan tersebut. Ada tiga orang teman yang bersama saya.


Daerah pertama yang kami kunjungi tentunya adalah Banjar Baru, karena di sinilah terletak bandara Syamsuddin Noor. Waktu di Kalsel berbeda dengan waktu di Jawa Timur. Kalsel sudah masuk dalam wilayah Waktu Indonesia Tengah (Wita). Dan inilah untuk pertama kalinya saya ke luar dari Waktu Indonesia Barat (WIB) dan mengunjungi Wita. Sebelumnya saya memang pernah ke Pulau Kalimantan. Tapi kunjungan saya sebelumnya adalah ke Kabupaten Kotawaringin Barat yang masuk Propinsi Kalimantan Tengah (Kalteng). Wilayah Kalteng sendiri masih masuk wilyah WIB.

Dari bandara Syamsuddin Noor kami langsung menuju Marapura, ibu kota Kabupaten Banjar. Kami berada di sana sekitar dua minggu.

Ketika berada di Kalsel kami merasakan masalah di masakan. Ya, masakan Kalsel tidak sesuai dengan selera kami. Masakan Kalsel berasa manis, sedang kami lebih suka selera pedas. Di Penginapan Martapura tempat kami menginap berulang kali kami meminta sambal yang pedas, tapi tetap saja kurang sambal yang disajikan kurang pedas dan masih terasa manis. Bahkan salah seorang teman saya sempat berkelakar dengan menanyakan apa terjemahan kata pedas dalam Bahasa Banjar. Takutnya ada istilah yang berbeda untuk mengatakan pedas.

Hal yang lain yang berbeda adalah tentang penyebutan “Es Teh.” Warga Kalsel tidak menyebutnya dengan “Es teh” tapi “Teh Es.” Salah seorang teman saya mengatakan bahwa benar juga penggunaan istilah “Teh Es.” Ini sesuai dengan penggunaan istilah “Teh Panas.”

Mengenai hal ini saya mengatakan ke teman-teman bahwa orang Kalsel mengategorikan minuman tersebut dalam kategori TEH, sehingga kata “Teh” diletakkan di depan. Ini sama dengan penyebutan teh manis, teh pahit, teh hangat, panas, atapun teh botol.

Apa dengan itu masyarakat selama ini kita salah dengan menyebut minuman tersebut “Es Teh?” Tentu tidak. Ini karena kita memasukkan minuman tersebut dalam kategori ES. Ini sama dengan kita es jeruk, es kopyor, dll.

Ketika sendang menginap di Martapura itulah kami meluangkan waktu untuk berkunjung ke Banjarbaru lagi, tepatnya di Lapangan Murjani. Waktu itu juga saya dengan salah seorang teman menyempatkan diri untuk mengunjungi salah seorang teman yang tinggal di Batulicin, kabupaten Tanah Bumbu.

Setelah sekitar du minggu di Martapura kami pindah ke Banjarmasin. Sekitar dua minggu kami tinggal di kota yang berjuluk “Kota Seribu Sungai” tersebut.


Artikel Terkait:

Masukkan Email Untuk Berlangganan

5 komentar:

Anonymous said...

yang penting sama2 enaaaaaaaak.....

Investasi Online Terbaru dan Tercepat said...

wah enaknya jalan jalan...... hehehehhehehehehehe....

Ngomong ngomong soal es teh..., aku doyan bnget...
hampir tiap hari minum Es teh..., tinggal ngambil di kulkas aja.... hehehehhehehehe

Hendra said...

kalau ada Es teh atau Teh Es, ada lagi minuman yang mungkin perlu Bang Im, ketahui yaitu Teh Obeng. Referensinya silahkan tanya Mbah Google. :)
> Hendra

dokunimus said...

Tiap daerah punya ciri bahasa sendiri. Seperti dalam hal menyebutkan nama makanan.

Cara Menjadi Agen Ace Maxs said...

kalo didaerah ku Es Teh gan :)

Post a Comment

Berikan Komentar Anda! Saya Akan Sangat Senang Bila Anda Melakukannya. Tapi Ingat!!! Komentar Yang Membangun ya?. Trims.