Friday, May 15, 2009

Keluar Dari Zona Nyaman (ZN)

Ketika kecil saya tidak punya cita-cita yang harus dikejar. Kehidupan berjalan mengalir begitu saja. Saya menjalani rutinitas sebagai anak desa yang mayoritas penduduknya menggantungkan hidup dari bertani. Pagi hari saya menempuh pendidikan di Sekolah Dasar (SD). Sedang pada siang sampai sore hari saya harus menempuh pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah (MI). Sehabis maghrib saya dan teman-teman belajar mengaji yang kebetulan tempatnya ada di rumah saya sendiri. Kebetulan kaka-kakak saya menjadikan rumah sebagai tempat untuk mengajar mengaji. Pada awalnya yang belajar hanya keluarga sendiri. Lama-lama banyak juga tetangga yang ikut belajar di situ.

Sebagai daerah dengan kultur Islam yang kuat, tentunya cita-cita yang ditanamkan masyarakat kepada anak-anak adalah bagaimana menguasai ilmu agama dan kemudian mengajarkan ilmu agama tersebut kepada masyarakat. Di luar itu hampir tidak ada cita-cita yang dominan.


Selama beberapa tahun desa saya menjadi tempat bagi mahasiswa untuk menjalankan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Mereka adalah mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi negeri ternama di kota Surabaya. Walaupun demikian jarang sekali dari kami yang bercita-cita untuk melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi, apalagi untuk mengambil jurusan-jurusan umum, seperi kedokteran, atau hukum.

Setelah menamatkan SD dan MI, sayapun melanjutkan pendidikan ke sebuah pesantren ternama di Ponorogo. Bersama dengan seorang teman saya menempuh pendidikan di sana untuk jenjang pendidikan setingkat SMP dan SMA. Kebetulan pesantren tersebut menggabungkan dua jenjang pendidikan tersebut. Jadi pendidikan di sana harus ditempuh dalam waktu enam tahun.

Setelah lulus dari pesantren tersebut saya meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi. Jurusan yang saya ambilpun masih berkenaan dengan mendalami ilmu agama. Kali ini saya menghambil jurusan pendidikan agama Islam atau Tarbiyah di salah satu perguruan tinggi swasta di Malang. Kalau di hitung-hitung, hampir 25 tahun saya menghabiskan umur untuk mendalami yang namanya agama.

Terus apa yang saya dapatkan? Saya merasa tidak mendapatkan apa-apa. Hidup saya begini-begini saja. Dari tahun ke tahun saya merasa tidak mengalami perkembangan yang berarti, bahkan cenderung menurun. Kalau mengutib apa yang pernah dikatakan oleh Umar bin Khattab, salah seorang sahabat Nabi Muhammad saw dan merupakan kholifah kedua dari para khulafaur rosyidin, bahwa orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka termasuk orang yang untung, sedang orang yang hari ini sama saja dengan hari kemarin maka ia termasuk orang yang merugi, dan barang siapa yang hari ini lebih beruk dari hari kemarin maka termasuk orang yang terlaknant, maka saya bisa dikategorikan orang yang terlaknat.

Walaupun tidak terjadi berubahan berarti dalam diri saya, tapi pergaulan saya di perguruan tinggi mengajarkan kepada sisi lain dari kehidupan. Mungkin dalah hal ilmu dan kemampuan agama saya mengalami penurunan, tapi untuk hal yang lain saya mengalami kemajuan dari tahun-tahun yang lalu. Saya memang berusaha keluar dari dunia ilmu agama yang sudah menjadi zona Nyaman (ZN) saya. Walaupun belum terlalu sukses, apa yang saya lakukan sudah banyak menunjukkan keberhasilan. Tapi perlu diingat, kelurnya saya dari zona nyaman tersebut bukan berarti saya meninggalkannya. Keluar di sini berarti memperluas zona nyaman saya.

Ngomong-ngomong, apakah itu Zona Nyaman (ZN)? ZN adalah wilayah, aktifitas, atau kemampuan yang selama ini sudah kita kuasai. Karena sudah kita kuasai maka kita merasa nyaman di situ. Wilayah di luar itu bukanlah zona nyaman, tapi di luar itu merupakan wilayah yang membuat kita tidak nyaman. Saya mempunyai seorang teman yang tidak bisa mengendari motor yang harus menggunakan kopling. Karena itu dia selalu mengendarai motor yang tidak menggunakan kopling dan akan selalu menghindari untuk menggunakan motor yang memakai kopling. Memakai motor yang tidak menggunakan kopling adalah ZN-nya dia. Sedang motor yang memakai kopling adalah diluar ZN-nya.

Kalau seseorang tidak berani keluar ZN-nya, maka tidak banya hal yang ia ketahu, tidak banyak hal yang ia kuasai. Tanpa keluar dari ZN kita akan menjadi manusia yang statis. Maka jangan ragu untuk keluar dari ZN Anda!


Artikel Terkait:

Masukkan Email Untuk Berlangganan

1 komentar:

aaLiL BelajarSEO said...

"Tanpa keluar dari ZN kita akan menjadi manusia yang statis. Maka jangan ragu untuk keluar dari ZN Anda!"

Kutipan kalimat diatas keren pak, bikin semangat.. keep share yah

Post a Comment

Berikan Komentar Anda! Saya Akan Sangat Senang Bila Anda Melakukannya. Tapi Ingat!!! Komentar Yang Membangun ya?. Trims.