G4NKRI atau Gontorian for NKRI mendeklarasikan dukungan pada pasangan Capres 01, Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Deklarasi tersebut dilaksanakan pada Selasa, 29 januari 2019. Koordinator G4NKRI, Ruhul Maani mengatakan bahwa setelah menimbang kiprah Jokowi dan Kiai Maruf baik dalam kegiatannya di MUI, masyarakat, bagaimana menyusun kerangka ekonomi Islam di perbankan syariah, maka mereka menjatuhkan pilihan pada capres 01 (detik.com: 29/1/2019).
G4NKRI sendiri merupakan komunitas sebagian alumni Pondok Moderen Darussalam, Gontor, Ponorogo yang sedari awal mendukung Presiden Joko Widodo. Jadi tidak mengherankan kalau komunitas ini kemudian mendeklarasikan dukungannya. Ini hanya soal seremonial.
Kemunculan G4NKRI sendiri menjadi perdebatan di antara para alumni Pondok Moderen Gontor. Salah satu yang menjadi perdebatan adalah penggunaan kata "gontorian." Penggunaan kata tersebut dianggap membawa Pondok Moderen Gontor pada politik praktis, padahal Gontor tidak pernah terlibat dalam politik praktis, termasuk dalam hal dukung-mendukung capres dan cawapres.
Para alumni yang tergabung dalam G4NKRI tentu akan menjawab bahwa penggunaan kata gontorian tidak bermaksud membahwa Gontor pada politik praktis. Karena beda Pondok Moderen Gontor dengan gontorian. Pondok Moderen Gontor sebagai lembaga pendidikan tidak terlibat dalam politik praktis. Sedangkan gontorian adalah para alumni, dan tidak ada larangan bagi alumni untuk berpolitik praktis.
Memang tidak ada larangan bagi para alumni untuk berpolitik praktis sehingga sekilas argumentasi tersebut benar-benar saja. Tapi pertanyaannya, kepana menggunakan istilah gontorian? kenapa tidak istilah lain?
Digunakannya kata atau istilah gontorian menunjukkan kalau para alumni yang tergabung dalam G4NKRI berusaha menggunakan nama besar Gontor. Tanpa Gontor mereka kecil dan tidak terlalu dilihat. Dengan menggunakan nama besar Gontor mereka berharap akan menjadi ikut besar dan dipandang. Jadi mau diakui apa tidak penggunaan istilah Gontorian for NKRI adalah bukti sahih bahwa mereka kecil.
G4NKRI sendiri merupakan komunitas sebagian alumni Pondok Moderen Darussalam, Gontor, Ponorogo yang sedari awal mendukung Presiden Joko Widodo. Jadi tidak mengherankan kalau komunitas ini kemudian mendeklarasikan dukungannya. Ini hanya soal seremonial.
Kemunculan G4NKRI sendiri menjadi perdebatan di antara para alumni Pondok Moderen Gontor. Salah satu yang menjadi perdebatan adalah penggunaan kata "gontorian." Penggunaan kata tersebut dianggap membawa Pondok Moderen Gontor pada politik praktis, padahal Gontor tidak pernah terlibat dalam politik praktis, termasuk dalam hal dukung-mendukung capres dan cawapres.
Para alumni yang tergabung dalam G4NKRI tentu akan menjawab bahwa penggunaan kata gontorian tidak bermaksud membahwa Gontor pada politik praktis. Karena beda Pondok Moderen Gontor dengan gontorian. Pondok Moderen Gontor sebagai lembaga pendidikan tidak terlibat dalam politik praktis. Sedangkan gontorian adalah para alumni, dan tidak ada larangan bagi alumni untuk berpolitik praktis.
Memang tidak ada larangan bagi para alumni untuk berpolitik praktis sehingga sekilas argumentasi tersebut benar-benar saja. Tapi pertanyaannya, kepana menggunakan istilah gontorian? kenapa tidak istilah lain?
Digunakannya kata atau istilah gontorian menunjukkan kalau para alumni yang tergabung dalam G4NKRI berusaha menggunakan nama besar Gontor. Tanpa Gontor mereka kecil dan tidak terlalu dilihat. Dengan menggunakan nama besar Gontor mereka berharap akan menjadi ikut besar dan dipandang. Jadi mau diakui apa tidak penggunaan istilah Gontorian for NKRI adalah bukti sahih bahwa mereka kecil.
Artikel Terkait:
Coretanku
- Training di RAD Indonesia Memberikan Sertifikat Internasional
- CMA Indonesia: Tempat Anda untuk mendapatkan Certified Management Accountants
- Menghapal Doa Qunut Agar Bisa Menjadi Imam Di Mana Pun
- Apakah Saya Berada Dalam Zona Nyaman di Pekerjaan yang Sekarang?
- Man Shobaro Dzofiro
- Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI)
- Umat Islam Indonesia Memasuki Zaman Moderen: Sebuah Pengantar Yang Panjang
- Akon Indonesia, Political Consulting & Campaign Management
- Survei Aktivitas Online
- Akhirnya Keluar Juga
- Honor Survei Tidak Turun-Turun
- Bandwagon Effect dan Underdog Effect
- Blogku Akhirnya Berubah Menjadi Do Follow
- Stop Dreaming Start Action
- RUSLI ZAINAL GUBERNUR RIAU YANG VISIONER
- Menggugat Hasil Survei LSI
- Keluar Dari Zona Nyaman (ZN)
- Terjebak Putusan Mahkamah Konstitusi (MK)
- Ketika Parpol Islam Sudah Tidak Lagi Menarik
- Permohonan Maafku Buat Para Pengunjung Blog ini
- Menciptakan Organisator-Organisator Handal
- Coretanku
0 komentar:
New comments are not allowed.